03 November 2011

PUISI SANDAL JEPIT

dan aku rela terinjak
untuk kakimu

demi melindungi kakimu
dari duri dan kerikil menajam

dan aku demi kakimu
menapaki sepanjang trotoar

melindungi kakimu
dari panasnya aspal

dan aku tetap setia padamu
mengikuti langkahmu

dan aku menghantarkan perjalananmu
mampir berwudhu dan tunaikan lima waktu

dan aku adalah sandal jepitmu
setia mendampingi perjuanganmu

Cengkareng Barat, 20 Oktober 2011

02 November 2011

Mengejar Mimpi


aku lapar
aku haus
telanjang kaki
mengais sisa mimpi
aku letih
aku lelah
telajang jiwa berlari nafas tesengal
mengejar asa yang makin meninggi
aku terhujat
aku termaki
berlindung dibalik tirakat padam api
gejolak  hati membakar jiwa
menghujam rasa segala penat
esok mentari masih besinar
meski senja selalu menjemput
dan dunia tak selebar daun singkong
ketika mimpi belum terbeli
segalanya belum usai disini
gegap gempita memacu jiwa
rintihan hati terlupa
kesakitan diri dilupakan
senyum membingkai dukahari ini mimpi
esok hari mimpi
lusa kan jadi nyata

TAUBAT

lalu
ketika air mata tak lagi mengalir
dan hati membatu
membekukan urat rasa
adakah
sepenggal tanya tersisa
mengupas sesal di ujung maut
jika Tuhan hendak mencabut
segala tertinggal
raga terkubur dipusara waktu
dan semua bicara satu persatu
maka
datang lebih awal
tafakur segala jujur diri
taubat bersihkan hati
sebelum datang
masa menjemput
jiwa terpisah dari raga

akankah


Barisan mimpi yang semalam tadi
kurapatkan menghentak berhampuran pergi

menukil pagi terjemput sinaran surya
dan rintik embun mulailah menguap entah kemana
jemariku merapat untuk menggenggam
nadi ku berdetak lebih kencang membunuh muram
lenganku tersingsing dengan kepalan tangan
memulai hari mengejar sisa angan
akankan

Jika

jika segala rasa adalah perhiasan duniawi
jika kosong itu isi
dan jika isi itu kosong
.
.
.
.
maka aku setitik debu
yg bermimpi menjadi gurun
setetes air
yang bermimpi jadi lautan
jika segala rasa adalah perhiasan dunia
maka aku bukanlah sempurna
karena aku menagis
karena aku tertawa
karena ku sedih
karena ku bahagia

Sunyi


aku merunut pada kesahku
mengalir tanpa muara

berderai tanpa aliran deras
hanya sepi tanpa batas
sunyi tanpa sekat
tak mampu hentikan aliran asa
ketika rasa saling terpaut
beriak mimpi hanyut
malam tak lagi berbilang
kesunyian pekat dalam bimbang
kau tahu?
asaku dan rasaku
menyatu dalam biduk
tanpa dayung sampan tuk melaju